Setiap kali pulang kampung, ada satu ritual yang nggak pernah aku lewatkan: bangun jam setengah enam, jalan kaki ke pasar, terus borong jajanan seadanya buat sarapan. Bukan karena lapar-lapar amat. Lebih karena takut kalau tahun depan balik lagi, mbok-mbok yang jualan udah nggak ada di sana.
Dan tahun lalu, itu beneran kejadian.
Aku nyari penjual kue rangi langganan di sudut pasar dekat los sayur. Nggak ketemu. Kata pedagang sebelahnya, beliau berhenti jualan sejak pandemi, anaknya kerja di pabrik dan nggak mau nerusin. Satu resep, satu pasang tangan, satu wajan tanah liat yang udah item legam — hilang gitu aja tanpa ada yang sempat nyatet takarannya.
Jajanan yang Dulu Ada di Mana-mana, Sekarang Tinggal Cerita
Coba deh tanya ke orang yang lahir tahun 90-an ke bawah. Hampir semua punya daftar jajanan masa kecil yang sekarang susah banget dicari. Bukan punah total, tapi udah masuk kategori harus diniatin kalau mau nemu.
- Kue rangi — adonan tepung sagu dan kelapa parut yang dipanggang di cetakan besi, disiram gula merah kental. Renyah di luar, lembut di dalam, dan wangi bakarannya itu nggak ada duanya.
- Putu bumbung — yang dulu penjualnya lewat sambil bunyi nguuuung dari uap ketelnya. Sekarang suara itu tinggal di ingatan.
- Cenil — kenyal, warnanya norak pink-hijau, ditaburi kelapa dan gula pasir. Sederhana banget tapi bikin kangen.
- Awug — tepung beras kukus berlapis gula aren, khas Sunda, biasanya dijual sore menjelang magrib.
- Sagon bakar — kering, wangi kelapa sangrai, gampang bikin batuk kalau makannya sambil ngobrol.
- Es goyang — es santan bertangkai yang gerobaknya digoyang-goyang. Sekarang jarang lewat komplek.
Aku sengaja nggak masukin klepon dan lapis legit ke daftar ini. Dua itu masih aman, malah naik kelas jadi menu kafe. Yang aku khawatirin justru jajanan yang margin untungnya tipis dan proses bikinnya berat.
Kenapa Mereka Pelan-pelan Menghilang
Alasannya nggak romantis, jujur aja. Ini soal hitung-hitungan dapur.
Bikin putu bumbung itu butuh kelapa parut segar yang diparut pagi itu juga, gula aren asli, dan tenaga buat berdiri di depan ketel uap panas berjam-jam. Hasilnya dijual seribu lima ratus per biji. Sementara jualan minuman boba modal serbuk instan bisa dilepas lima belas ribu segelas. Kalau kamu jadi anaknya penjual putu, kira-kira mau nerusin yang mana?
Tambah lagi sewa lapak pasar yang naik, harga kelapa yang fluktuatif, dan generasi muda yang lebih akrab sama croffle daripada awug. Wajar kalau satu per satu tutup. Aku nggak mau nyalahin siapa-siapa — ini konsekuensi ekonomi, bukan kesalahan moral.
Cara Berburu Jajanan Pasar yang Masih Otentik
Kabar baiknya, mereka belum habis. Cuma pindah ke jam dan tempat yang lebih spesifik. Ini yang aku pelajari setelah beberapa tahun keliling pasar di beberapa kota.
Datang sebelum jam tujuh pagi. Ini harga mati. Jajanan pasar itu produk yang nggak pakai pengawet, jadi habis ya habis. Datang jam sembilan, kamu cuma dapat sisa lemper dan risoles yang udah dingin.
Masuk ke pasar tradisional, bukan pasar modern. Cari los paling belakang, biasanya yang deket penjual bumbu atau kelapa parut. Penjual jajanan sering nempel di situ karena bahan bakunya sebelahan.
Tanya langsung ke pedagang lain. Ini trik paling ampuh. Ibu-ibu penjual sayur hafal luar kepala siapa yang jualan apa dan hari apa. Sekali aku dikasih tahu bahwa penjual awug cuma muncul hari Selasa dan Jumat — info yang mustahil aku dapat dari Google Maps.
Tanda Penjual yang Layak Kamu Datangi Lagi
- Jenis dagangannya sedikit tapi konsisten. Yang jual tiga macam biasanya lebih jago dari yang jual dua puluh macam.
- Kelapa parutnya masih putih bersih dan agak lembap, tanda diparut pagi itu juga.
- Manisnya dari gula merah asli, bukan gula pasir dicampur pewarna cokelat. Rasanya beda tipis tapi kerasa.
- Antreannya didominasi orang tua. Mereka punya standar rasa yang udah kalibrasi puluhan tahun.
- Bungkusnya masih pakai daun pisang atau kertas minyak. Bukan soal estetika, tapi daun pisang beneran ngefek ke aroma.
Aku Sempat Nekat Bikin Sendiri, dan Hasilnya Berantakan
Karena takut kehilangan, aku pernah coba bikin sendiri di rumah. Niatnya mulia, eksekusinya memalukan.
Percobaan pertama: klepon. Gula merahnya aku serut kekasaran, jadi pas dikukus dia bocor semua ke air rebusan. Yang kemakan cuma bola tepung hambar dengan air rebusan yang manis banget. Percobaan kedua aku ganti gula merah sisir halus yang dipadatkan dulu, baru berhasil meletus di mulut seperti seharusnya.
Percobaan kedua: kue rangi. Ini gagal lebih parah. Aku nggak punya cetakan besi khusus, jadi pakai wajan datar biasa. Hasilnya adalah dadar kelapa gosong yang nempel permanen di wajan. Butuh sejam buat ngerendam wajannya.
Dari situ aku sadar, jajanan pasar itu bukan cuma soal resep. Alatnya, kayu bakarnya, tangan yang udah hafal tekstur adonan — itu semua bagian dari rasanya. Makanya susah ditiru.
Tapi aku nggak nyesel nyoba. Setidaknya sekarang aku ngerti kenapa satu bungkus cenil yang dijual dua ribu itu sebenernya kemurahan banget.
Beli Dua Bungkus, Bawa Pulang Ceritanya
Kalau kamu besok kebetulan lewat pasar dan lihat ibu-ibu duduk di tikar dengan tampah berisi jajanan warna-warni, mampir sebentar. Beli lebih dari yang kamu butuhin. Tanya namanya siapa, jualan sejak kapan, jajanan mana yang paling laku.
Aku pernah ngobrol lima menit sama penjual gethuk lindri di Solo, dan dia cerita resepnya turun dari neneknya sejak tahun 60-an. Lima menit doang, tapi gethuk yang aku makan siang itu rasanya beda — bukan karena bumbunya, tapi karena aku tahu ada empat puluh tahun di balik satu porsi seribu rupiah itu.
Makanan tradisional nggak akan selamat lewat kampanye atau hashtag. Dia selamat kalau ada yang beli, tiap pagi, konsisten. Sesederhana itu. Jadi mulai besok, sesekali skip kopi kekinian dan ganti dengan satu bungkus cenil. Perutmu senang, dan satu resep tua dapat alasan buat bertahan setahun lagi.